Sabtu, 06 Juni 2015

Tipe Manakah kamu, Quiters Camper, dan Climber

sederhana, kehidupan ini bisa diibaratkan sebagai pendakian gunung, dimana tujuan akhirnya adalah berhasil mencapai puncak. Paul Stoltz membagi manusia menjadi tiga dalam analog mendaki gunung.

Tipe pertama adalah Quitters atau mereka yang keluar dari pertarungan. Orang-orang ini mudah putus asa jika menemui rintangan, dan kemudian berhenti di tengah pendakian. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini sangat pesimis dan mudah menyerah sehingga jauh dari kata sukses.
Tipe kedua adalah Campers atau mereka yang berkemah. Orang-orang ini berhenti ditengah jalan. Pendakian tidak selesai, tapi mereka mersa sudah berhasil meskipun belum sampai ke puncak. Tipe ini lebih baik disbanding tipe Quitters karena berhasil menyelesaikan beberapa tantangan meskipun tidak semuanya. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini adalah yang cepat puas meskipun belum mencapai hasil yang maksimal dan masih tersimpan banyak potensi untuk bisa melangkah lebih jauh.
Tipe ketiga adalah Climbers atau mereka yang terus mendaki. Orang-orang ini selalu berpikiran positif, tidak pernah menyerah, terus melangkah dan berjuang sampai akhirnya mencapai puncak gunung. Dalam kehidupan nyata,orang-orang inilah yang terus bergerak maju dan melihat tantangan sebagai peluang. Jika rintangan adalah malapetaka bagi orang lain, maka bagi mereka adalah berkah, karena itulah yang akan membawa mereka naik ke puncak. Inilah orang-orang yang akan sukses mengejar impian-impiannya.

My Dream

My dream. cita-cita yang saya miliki sebenarnya cukup simple yaitu ingin membahagian kan kedua orang tua saya,dan membuat mereka bangga mempunyai anak seperti saya ,sama halnya dengan cita-cita orang pada umumnya ,tentu selain cita-cita yang saya miliki saya juga mempunyai.suatu cita-cita lagi  dalam hidup saya ,yaitu ingin berhasil dalam dunia kerja .memiliki perusahan sendiri.dan memciptkan lapangan kerja sendiri.agar di masa depan kelak saya bisa hidup dengan berkecukupan.dan bisa memenuhi semua kebutuhan keluarga saya, dalam hal mencapai cita-cita saya tersebut saya sadar.saya harus mempunyai usaha yang maksimal,agar cita-cita dan keinginan saya tersebut dapat saya capai ,usaha yang harus saya lakukan ,ya tentu saja,di masa muda saya uni saya harus ,belajar dan mengerti dibidang apa saya akan mencapai cita-cita saya.

Dan dalam usaha saya tersebut saya juga tidak lupa untuk selalu memanjatkan doa kepada sang haliq,saya pernah mendengar kata-kata orang bijak bahwa suatu usaha tanpa di landasi dengan doa,sama saja dengan sia-sia,dan berdoa tanpa dilakukannya suatu usaha ya sama mengharap sesuatu yang tak pasti.





The Winner Never Give Up

The winner never give up, kata-kata tersebut sering saya dengarkan,dari lingkungan sekitar,tetapi saya belummngerti apa itu makna dari kata tersebut,tetapi setelah saya mendapatkan mata kuliah kecakapan antar personal di kampus saya,sya jadi sedikit mengerti makna dari kata tersebut,di mata pelajran tersebut di jelaskan,bahwa untuk menjadi seorang juara atau the winner kita perlu melakukan serangkai usaha,dan di dlam melakukan usaha tersebut kita di tuntut untuk tidak pernah menyerah,karna seorang pemenang tidak akan pernah menyerah dengan semua tantangan yang ada ,meeka cendrung berusaha dan berusaha,tekun dalam mngerjakannya ,dlam melakukan usaha untuk mencapai yang mereka ingin kan,dan untuk menjadi seorang juara

Dan saya pernah mempunyai penglaman,yang nyata saya alami sendri ,dulu saya pernah mengikuti seleksi peneriamaan TNI(tentara nasional republik indonesia) bersama teman2 saya,tahap demi tahap kami jalani,berbagai rangkaian tes saya jalanin.hingga akhirnya saya mencapai tes terakhir yaitu pantohir,atau yang lebih di kenal dengan pantauan terakhir,di tes terakhir tersebut,saya dan temen2 saya gagal,dan karena umur saya dan temen2 saya tersebut pada saat itu masih 19 tahun,kami memutuskan untuk mngekuti,tes2 di tahun2 beriukutnya,dan kami mendpatkan hasil yang sama,gagal di pantohir,mnginjak umur 21 saya menyerah untuk mnjadi seorang prajurit,dan saya memilih untuk melanjutkan study,tetapi teman2 saya tidak mnyerah untuk mengulang,teman2 saya pernah mengjak saya untuk kembali mngekuti seleksi tersebut ,meraka mngatakn,"ayo kita mngikuti seleksi sekali lagi" karna memang batas umur untuk mngikuti seleksi tersebut adalah 22 tahun,tetapi saya mngetakan"sudah aku menyerah,hasilnya pasti akan sama "tetapi temen 2 saya terus mngikutinya,6 bulan kemudian saya mendengar kabar teman2 saya ,berhasil lulus dan mnjadi TNI,di sana sya sedikit memetik pengalaman,dan mengerti dengan kata-kata "THE WINNER NEVER GIVE UP",dengan keberhasilan teman2 saya ,saya tidak merasa iri,dan saya tidak merasa menjadi orang yang gagal,justru dengan keberhasilan teman2 saya ,menjadikan motivasi buat saya ,agar berhasil di bidang lain,dan saya akan berusaha sampai batas waktu yang memang di tentukan,bukan menyerah di sisa waktu yang masih ada.